Culture

Haul Sayyid Abdullah Legon Kluwak: Merawat Budaya Kemujan

Setiap tahun di akhir bulan Juli, ribuan warga Kemujan berhenti sejenak dari rutinitas untuk menyembelih sapi bersama, mengaji bersama, dan duduk berkerumun di lapangan yang berembun. Ini catatan dari dalam Haul Sayyid Abdullah Legon Kluwak untuk melaksanakan ritual tahunan yang sekaligus menjadi cara dari sebuah desa memilih untuk melestarikan budayanya.

Annida Aimee Khalizza4 min read

Haul Sayyid Abdullah Legon Kluwak: Merawat Budaya Kemujan

Ada satu titik di Kemujan, yang setiap tahun, pada tanggal yang sama, menjadi ajang pertemuan bagi seluruh masyarakat desa. Namanya Legon Kluwak, sebuah makam kecil yang dipercaya oleh masyarakat setempat menjadi makam dari Sayyid Abdullah bin Abdulatif, atau yang lebih dikenal warga sebagai Sunan Legon Kluwak. Diyakini sebagai keturunan Nabi Muhammad dan salah satu tokoh penting dalam sejarah syiar Islam di kepulauan Karimunjawa, sosok ini hidup dalam ingatan kolektif bukan sebagai catatan sejarah saja, melainkan sebagai budaya yang terus dirawat lewat ritual bernama Haul. Tahun ini, persiapan dimulai pada 28 Juli 2026, dengan inti acara yang berlangsung dua hari setelahnya, 29-30 Juli.

Hari Persiapan

Pagi hari persiapan dimulai pukul 7, ketika seekor sapi betina disembelih oleh para bapak. Selain sebagai teknis penyediaan konsumsi, proses ini sekaligus menjadi pembuka rangkaian kerja kolektif yang akan berlangsung sepanjang hari. Setelah sapi disembelih, dilakukan pemotongan daging yang langsung dimasak oleh para ibu dengan kecap dan santan yang diperah dan diasatkan sendiri, lalu dikemas dalam plastik-plastik kecil seberat seratus gram.

?

Sementara dapur-dapur mengepul, para bapak bergerak membersihkan akses menuju makam dan memasang tratak di area makam. Yang menarik, seluruh kerja disik ini tidak berjalan dalam kesunyian sekuler. Bersamaan dengannya, lantunan Al-Qur'an mengalun dari Jamaah Khotmil Qur'an JQH NU Karimunjawa. Kerja tangan dan kerja lisan berjalan berdampingan, seolah menegaskan bahwa di Kemujan, tidak ada garis tegas yang memisahkan antara yang profan dan yang sakral. Membersihkan makam adalah ibadah, memasak daging adalah ibadah.

Menjelang malam, suasana bergeser menjadi lebih khidmat lewat tirakatan yang meliputi Maulid Nabi, pembacaan Manaqib serentak, Tahlil, dan penggantian luwur, kain mori putih yang menyelimuti pusara. Penggantian kain ini menjadi metafora paling jujur dari seluruh rangkaian Haul yang berarti lama digantikan yang baru, namun yang dihormati tetap sama. Waktu bergerak, tapi penghormatan tidak lekang.

Hari Pertama

Pukul 5 pagi, Khotmil Qur'an bin Nadhor oleh Jamaah Khotmil Qur'an Kemujan menjadi penanda dimulainya hari pertama, bersamaan dengan warga yang mulai berdatangan membawa tikar dan bekal masing-masing. Di pintu masuk, daging yang telah dikemas kemarin mulai dibagikan. Pembagian daging yang dilakukan memperlihatkan bagaimana setiap keluarga datang membawa makanannya sendiri, namun daging yang mereka terima berasal dari sapi yang sama, disembelih bersama, dimasak bersama. Yang privat dan yang komunal berbaur di atas satu tikar yang sama.

?

Seremonial Haul dibuka dengan pembukaan oleh panitia, dilanjutkan sambutan pengurus makam dan petinggi Kemujan, santunan bagi yatama, Tahlil umum, dan doa bersama. Setelahnya, warga makan bersama, bekal pribadi bercampur dengan daging pembagian. Momen makan ini barangkali adalah inti dari seluruh Haul, yaitu bukan sekadar mengenang Sunan Legon Kluwak, tapi juga menegaskan kembali ikatan antarwarga lewat cara paling sederhana dengan duduk bersama, di tanah yang sama, memakan makanan yang sama. Malam harinya, Majelis Sholawat dan Maulidurrosul oleh Jemaah Al-Hikmah menutup hari dengan lantunan istighosah yang mengalun seantero lapangan Kemujan.

Hari Kedua

Hari kedua dibuka dengan persiapan pengajian di lapangan Kemujan pukul 9 pagi. Tratak yang semula berada di makam telah dipindah dan dipasang di lapangan sebagai tempat bagi para tamu undangan. Para bapak juga memasang umbul-umbul, banner-banner di beberapa titik, dan mulai melakukan pemetaan untuk pengalihan jalan raya selama pengajian malam hari nanti berlangsung.

Malam harinya, pukul 7, masyarakat Kemujan kembali berkumpul. Dalam kurun waktu 30 menit saja, lapangan sudah terisi lebih dari separuh oleh warga yang bersemangat mengikuti pengajian. Di jalan masuk lapangan, para pemuda yang tergabung dalam kepanitiaan Haul bersiap membagikan sekotak snack untuk setiap peserta. Snack yang dibagikan kepada peserta bukan berasal dari sponsor atau panitia semata, melainkan sumbangan wajib setiap kepala keluarga, minimal lima kotak. Prinsip "dari warga, untuk warga" ini menjadi hal yang menarik, Haul bukan pertunjukan yang disaksikan, melainkan sesuatu yang benar-benar dimiliki dan ditanggung bersama oleh setiap rumah tangga di Kemujan.

?

Rangkaian Haul mencapai penutup lewat pengajian umum bersama Ning Umi Laila dan Mutik Nida Cs, didahului sambutan dan santunan yatama. Udara di lapangan yang semula dingin dan berembun mulai bergeser menjadi hangat oleh karena kedekatan dan kebersamaan masyarakat yang datang. Lebih dari 500 orang berkumpul malam itu, masing-masing keluarga dan kerabat berkerumun di atas tikar yang mereka bawa sendiri. Lapangan yang siang harinya masih berupa tanah kosong, kini penuh oleh manusia yang datang dari dalam dan luar Karimunjawa, duduk berdampingan mendengarkan tausiyah yang mengalun di bawah langit cerah malam itu.

Yang tersisa Setelah Haul Usai

Ketika tratak dibongkar dan panggung dibereskan, yang tersisa bukan sekadar kenangan tentang acara yang meriah. Haul Sayyid Abdullah Legon Kluwak adalah cara Kemujan merawat memorinya dan melestarikan budayanya sendiri. Bukan lewat monumen yang diam, tapi lewat kerja kolektif yang diulang setiap tahun: menyembelih bersama, memasak bersama, membaca Al-Qur'an bersama, menyumbang bersama, dan pada akhirnya, duduk berkerumun di atas rumput yang berembun di malam hari bersama lebih dari 500 orang lainnya. Di sinilah letak filosofi yang sesungguhnya bagi masyarakat Desa Kemujan. Penghormatan kepada leluhur tidak pernah benar-benar tentang masa lalu, tetapi tentang bagaimana sebuah komunitas memilih untuk terus hidup bersama, hari ini dan tahun-tahun berikutnya, pada tanggal yang sama.